Dua Dunia

“Selamat malam, pemirsa. Bertemu kembali bersama saya, Wahyu Chandra. Kali ini, kami dari tim Dua Dunia mengunjungi sebuah kampung di pelosok Semarang yang terkenal karena keangkerannya. Di samping saya sekarang ada Ustadz Solsepatu yang nantinya akan menemani saya berkomunikasi dengan para makhluk astral di tempat ini. Selamat malam, Pak Ustadz.”

“Selamat malam, Mas.”

“Bisa anda jelaskan bagaimana kondisi tempat ini?”

“Yang saya lihat di tempat ini memang banyak sekali aura negatif. Mungkin karena banyak sekali bangunan tua yang sudah lama kosong di tempat ini. Jadi banyak sekali makhluk-makhluk gaib yang hadir. Seperti di ujung sana, saya melihat ada sekumpulan makhluk yang berwajah sangat menyeramkan! Masya Allah!?”

“Yang dimana?”

“Itu. Yang berbadan besar di bawah pohon beringin. Ah, percuma. Kamu pasti tidak bisa melihatnya.”

“Yang pake tank top ungu?”

“Iya. Lho, kok kamu bisa lihat?”

“Itu para banci yang make upnya luntur gara-gara kena hujan. Sekarang mereka lagi berteduh di bawah pohon.”

“…”

“Tad?”

“Gimana kalo kita lanjut ke proses mediumisasi aja?”

“Baiklah, pemirsa. Sekarang kita akan memulai proses mediumisasinya.”

Ustadz Solsepatu pun  mulai melakukan ritual untuk proses mediumisasi. Mulutnya komat kamit membaca do’a. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi ke atas seolah-olah sedang menarik sesuatu dari dunia gaib. Dengan gerakan secepat kilat, dia kembali menurunkan kedua tangannya dan meletakkannya tepat di bawah dagu kemudian bernyanyi,

Continue reading

Advertisements

(Bukan) Dunia Lain

Semua pasti pernah nonton (Masih) Dunia Lain, kan? Itu lho, acara yang nyariin hantu ke berbagai tempat di Indonesia buat di ajak ngobrol. Kadang kalo lagi beruntung, bakal ada beberapa penampakkan gitu yang tertangkap kamera. Wajar sih kalo hantu-hantu itu agak susah di ajak komunikasi. Kalo gue yang jadi hantunya, gue juga bakal bete. Ya lo bayangin aja, kita lagi asik-asik nongkrong, mungkin juga lagi mojok di bawah pohon asem bareng gebetan (yang pastinya hantu juga), trus ada segerombolan orang-orang yang kita ga tau darimana & di pimpin oleh siluman lampu bohlam (baca: orang botak) ngedatengin gue trus sok akrab ngajak ngobrol. Dihh, emangnya gue cowok apaan?! *benerin lipstik* #eh Continue reading

Kapal Hantu? Segitu doang? Cupu ahh~

‘Masuk ke Kapal Hantu bareng temen cowok bisa jadi tambah menyeramkan. Gue takutnya sewaktu kaget, malah refleks meluk dia atau sebaliknya…’

Itu tweet yang kemarin gue tulis sehabis masuk wahana Kapal-Hantu-yang-kampretnya-parah-banget-ciyus-deh di La piazza, Kelapa Gading. Wahana yang sukses membuat kejantanan gue di pertanyakan dan membuat beberapa pengunjung di sana mengalami kelumpuhan kuping massal gara-gara ngedenger teriakan gue. Untungnya, gue ga sampe membasahi celana gue dengan hujan lokal buatan yang berasal dari hasil karya ginjal gue karena saking kagetnya dengan semua setan bajakan yang ada di sana. Ya, gue berhasil selamat dari ancaman maha dahsyat itu saudara-saudara. Keren ya? Tepuk tangan dong… #apeu

Semuanya bermula dari obrolan gue bareng Hendry & Yoseph di Kamis malam sambil menyantap nasi goreng seharga 5 ribu rupiah yang rasanya seperti air kobokan. Kita ngobrolin segala macem mulai dari yang serius (Soal janji-janji para parpol yang mulai berbaur dengan sampah yang lainnya di Bantar Gebang), sampe yang super serius (Berapa lamakah sosis yang di kasih Hendry buat nasi goreng berada di freezer sampai menjadi menyeramkan seperti ini?). Lagi asik-asiknya ngobrol sambil berharap kalo gue masih bisa melihat matahari besok setelah memakan nasi goreng tadi, gue cerita ke mereka soal pengalaman pertama gue masuk wahana rumah hantu waktu SMP dulu. Hendry langsung nyamber, Continue reading