“CUT!?” (Part 1)

Sore hari yang mendung. Di teras sebuah rumah yang megah, terlihat seorang lelaki lanjut usia sedang duduk di kursi favoritnya. Di sampingnya, ada sebuah meja kecil dengan secangkir kopi hangat di atasnya.Tempat yang sangat nyaman untuk menikmati sore hari.

Ia menghela nafas. Ada sedikit gurat kesedihan di wajahnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke atas. Ada tetesan-tetesan kecil air yang mulai jatuh. Langit sepertinya juga sedang bersedih hari ini. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan langit menjadi sangat muram. Tapi apapun itu, ia berharap, semoga langit bisa kembali ceria. Dia tahu betul, meratap sendirian adalah hal paling menyebalkan di dunia ini.

Orang bilang, uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Tadinya ia pikir, ucapan itu hanyalah sekedar ocehan orang-orang yang tidak punya cukup uang untuk membahagiakan dirinya sendiri. Tapi ternyata, mereka benar. Money surely can’t buy happiness. Itu sendiri yang ia rasakan sekarang. Walaupun dia punya segalanya, harta yang sangat melimpah, tapi jauh di dalam hatinya, dia merasakan kesepian. Satu hal yang selalu mengganggu pikirannya adalah tentang keberadaan anak bungsunya yang sekarang entah dimana.

Dia masih ingat betul, bagaimana beberapa tahun yang lalu, anak bungsunya itu datang kepadanya untuk meminta sebagian hartanya. Dengan kasarnya, ia memaksa Papinya untuk memberikan harta bagiannya sekarang juga. Sebagai seorang Bapak yang sangat menyayangi anaknya, ia pun mengalah & membagikan harta miliknya kepada kedua anaknya dengan adil. Tapi berbeda dengan anak sulungnya yang memilih bertahan di sini untuk menemaninya, si bungsu malah pergi ke kota lain sambil menghamburkan harta miliknya.

Ia meminum secangkir kopi sekedar untuk menghangatkan badannya yang ringkih. Sama seperti hari-hari sebelumnya, dia selalu menghabiskan sorenya di teras rumahnya ini. Menunggu si Bungsu pulang. Hujan yang turun semakin deras, si Sulung yang belum pulang dari tempatnya bekerja & si Bungsu yang entah dimana. Semesta sepertinya sedang berkonspirasi untuk menambah kesedihannya hari ini. Tapi sebentar, siapa orang yang sedang berjalan di pelataran rumahnya ini? Sepertinya ia tidak asing dengan wajahnya.

“Nak, kaukah itu?”, ia bertanya kepada pemuda berpenampilan seperti gelandangan di depannya

“I…iya Pi, ini aku”, jawabnya sambil menahan tangis.

Ternyata benar. Dia adalah si Bungsu. Orang yang selama ini dia tunggu setiap sorenya. Si Bungsu pun berlari dan kemudian sujud di hadapan Papinya.

“Kemana saja kamu, Nak? Papi sangat mengkhawatirkan kamu”

“Aku udah banyak dosa sama Papi. Aku udah ga pantes jadi anak Papi. Aku… Akkk…”

“HAHAHAHAHAHAHA!?”

CUT!?

============================================================

Ko Cipto ngasih tanda supaya kita berhenti. Di depan gue, anak-anak gereja yang lain asik ngetawain gue & Kiki. Iya, kita lagi latihan drama buat natal nanti. Gue berperan sebagai si Bungsu dan Kiki menjadi Papi gue. Agak aneh karena kalo dilihat-lihat, seharusnya gue lebih pantes jadi Kakeknya Kiki daripada jadi anaknya.

“Walah, kalian gimana? Ki, kamu kenapa ketawa?”

“Sorry-sorry Ko, saya ga tahan lihat mukanya Agus dari jarak sedekat ini”

Kampret.

Ko Cipto jalan ngedeketin kita sambil ngebawa script di tangannya. Dia menggeleng bersahaja, dahinya berkerut. Di dalam hatinya, dia pasti nyesel kenapa mutusin buat memilih dua simpanse di depannya ini sebagai tokoh utama.

“Ayo dong, serius. Waktu kita udah ga banyak lho. Minggu depan udah akhir November. Kita udah harus shooting.”

“Uu’uuk-aa’aak”

Ko Cipto ngelempar pisang ke arah kita.

Kiki nangkep pake kakinya.

Engga deh.

Gue minta waktu sebentar buat ngebaca ulang script-nya. Di adegan ini, dialog kita emang agak panjang. Rencananya, sebagian dari adegan drama ini bakal kita bikin video minggu depan dan sisanya, akan kita mainin live di depan para jemaat yang dateng nanti. Itu artinya, kita harus beradegan full tanpa baca script. Itu artinya, adegan ini harus sempurna, tanpa ada kesalahan sekecil apapun. Itu artinya, gue bakal mencret.

Gue duduk di sebelah Kiki dan berusaha buat menghapal script yang sedang gue pegang. Gue tiba-tiba inget gimana semua ini bermula. Gimana gue akhirnya dipilih sebagai pemeran utama drama natal tahun ini. Beberapa minggu sebelumnya, di sebuah tempat makan mie ayam di deket gereja, Ci Meli ngomong ke gue,

“Gus, kamu di suruh Ko Cipto main bendera buat ngiringin aku sama Tia main tamborin pas acara natal nanti”.

Miie ayam yang sedang gue kunyah nyaris tersembur keluar saking kagetnya. Sehabis ngomong gitu, Ci Meli ngelanjutin makan tanpa dosa. Dasar siluman galon.

“Bentar-bentar. Gue… main bendera buat natal? Maksudnya megang bendera sambil joget-joget gitu?”

“Semacam itulah”

“Aduh, makasih deh. Tapi kayaknya engga.”

“Lha, emang kenapa?”

“Gini ya, Kinderjoy…”

Iya, gue emang biasa manggil Ci Meli dengan sebutan Kinderjoy karena bentuk keduanya mirip. Sama-sama bulet dan… agak luas.

“…sekarang coba lihat saya.”

Ci Meli ngelirik sedikit ke arah gue. Mungkin dia takut kalo ngeliat gue secara langsung, bakal otomatis berubah jadi batu.

“Udah? Nah, sekarang coba bayangin saya joget”

Ada sedikit ekspresi aneh di wajahnya. Gue ga tahu kenapa ekspresinya bisa berubah drastis kayak gitu. Karena penasaran, gue pun ikut ngebayangin gimana kalo gue sendiri joget. Dua detik kemudian, gue nyaris muntah.

“Jijik, kan? Emangnya mau semua jemaat yang dateng nanti, bakal kena muntaber massal?”

Gue masih terus nyerocos ngasih alasan-alasan yang ga masuk akal supaya ga jadi dipilih sebagai pembawa bendera.

“Bayangin lagi, Ci, pas acara natal nanti, suasana lagi khusyu-khusyunya, orang-orang lagi pada sibuk nyembah Tuhan, eh tiba-tiba pas saya masuk, ada yang kesurupan gara-gara ngeliat saya joget. Udah gitu sebagai syarat supaya si setan mau keluar, dia minta semua jemaat yang hadir buat senam poco-poco selama setengah jam. Itu pun harus dilakuin sambil make high heels yang tinggi haknya 30cm lagi. Ribet, kan? Nah, makanya. Udahlah, jangan pilih saya.”

Alae (Alay) kamu, Gus-Gus. Ngomong ke Ko Cipto sendiri sana”

Gue buru-buru ngabisin mie ayam ini. Setelah selesai, gue jalan ke meja Ko Cipto, pembina remaja gahoel di gereja gue. Intinya, gue menolak buat dipilih sebagai pembawa bendera. Bukan apa-apa, gue hanya takut para jemaat jadi susah membedakan antara gue dan Dewi Perssik. Lagian setelah gue inget-inget lagi, terakhir kali gue joget, tiba-tiba hujan turun deras banget. Tanpa gue sadari, tarian gue ternyata mirip dengan tarian pemanggil hujan.

Setelah berdebat cukup lama (dan juga ngancem kalo gue tetep dipilih sebagai pembawa bendera, gue bakal kayang selama acara berlangsung), Ko Cipto pun nyerah dan menyetujui permintaan gue. Hari itu, gue bisa pulang ke rumah tanpa harus khawatir dengan keselamatan para jemaat yang bakal dateng nanti.

Gue pikir semuanya udah berakhir. Gue kembali ke kehidupan normal: makan-tidur-ngebegal motor. Tapi ternyata dugaan gue salah. Seminggu setelah kejadian di atas, Ko Cipto mengambil alih mimbar gereja buat bacain pengumuman sehabis ibadah remaja.

“Oke temen-temen, Minta waktunya sebentar ya.”

“Ah, paling cuma pengumuman biasa”, gue ngomong ke diri gue sendiri.

Iya, gue emang kadang suka ngomong sama diri sendiri. Kasian, ya?

“Natal tahun ini, kami, para pengurus youth sepakat buat bikin drama buat natal. Dan sekarang saya bakal bacain siapa aja pemerannya.”

“Oh, drama. Pasangannya Shinta itu, kan? Drama & Shinta.”, gue masih sibuk ngobrol dengan diri gue sendiri

“Drama ini kita ambil dari Lukas 15: 11-32 tentang anak yang hilang. Langsung aja, ya. Yang berperan sebagai Bapak adalah Kiki”

“Einstein pernah main billiard ga, ya?”

Ini dialog ketiga gue dengan diri sendiri di tulisan ini. Nista sekali memang.

“Yang jadi anak sulung, Jo. Dan yang jadi anak bungsu, Agus”

“HAHAHAHA. SI JO JADI ANAK SULUNG. HAHAHAHA!?”

Eh tapi bentar, barusan Ko Cip nyebut nama gue?

Mampus gue.

Pingsan ga nih?

Pingsan aja lah ya.

Seseorang tolong kasih tau Raisa supaya follback Instagram gue.

Buat yang ga tahu, yang tertulis di Lukas tadi adalah cerita soal seorang anak bungsu yang durhaka sama Bapaknya. Abis dapet warisan, dia pergi ninggalin Bapak dan Kakak Sulungnya. Setelah ga punya apa-apa lagi, dia mutusin buat balik ke rumah Bapaknya lagi. Tinggal ditambahin naga & backsound lagu dangdut, mirip deh kayak cerita sinetron-sinetron Indonesia.

Dan disinilah gue berada sekarang. Di depan mimbar gereja, duduk di sebelah Homo Sapien yang proses evolusinya belum sempurna, sambil berusaha menghapalkan script yang panjangnya hampir ngalahin buku catatan dosa selama gue hidup.

“Oke, cukup ya waktu buat ngehapalnya. Sekarang ayo coba kita latihan lagi”, Ko Cipto duduk kembali ke tempatnya.

Gue dan Kiki bersiap mengulang adegan ini. Dia berdiri di depan gue, dan gue sujud di kakinya. Sekilas kita berdua malah terlihat kayak sepasang homo yang lagi proses lamaran romantis ala Glenn-Chelsea.

CUT!?”

Lagi-lagi kita gagal. Kali ini, giliran gue yang ketawa.

“Kenapa ketawa lagi, Gus?”, Ko Cipto sepertinya udah mulai ga sabar menghadapi kita. Satu hal yang gue takutin, kalo gue & Kiki begini terus, dia bakal ngirim kita berdua buat jadi TKI di perbatasan Gaza.

“Ya gimana saya ga ketawa, Ko. Ini nih, Kiki. Masa pas megang bahu saya, dia sambil grepe-grepe. Emangnya saya cowok apaan”

Ketawa anak-anak gereja kembali pecah. Beberapa malah ada yang bersiap ngelempar bangku ke arah kita. Dari pada jadi aktor drama, sepertinya kita berdua lebih cocok buat jadi wayang orang.

Kita kembali mengulang adegan ini entah buat yang keberapa kalinya hari ini. Ini pertama kalinya gue akting. Ternyata susah juga jadi aktor. Beberapa hari sebelumnya, gue sempet nonton Spectre, film terbaru dari serial James Bond. Kalo dilihat dari film itu, kayaknya gampang banget jadi aktor. Tinggal berantem dikit, ketemu cewek, terus ciuman. Tapi kenyataannya, susah banget. Akting ga cuma soal berantem-ketemu cewek-ciuman. Ternyata lebih dari itu. Apalagi lawan main gue adalah cowok. Gue jadi berpikir berpikir berkali-kali buat melakukan adegan yang terakhir.

Gue nyaris nyerah buat ambil bagian di drama ini. Rasa-rasanya, gue pengen ngomong ke Ko Cip supaya nyari orang lain aja buat gantiin gue. Drama sepertinya bukan tempat yang cocok buat orang yang ga pandai berpura-pura seperti gue. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, kalo gue nolak ini, itu artinya gue udah dua kali nolak pelayanan dong? Padahal kan ga semua orang bisa dapet kesempatan buat melayani Tuhan. Lah ini gue, udah dikasih kesempetan malah nolak. Masa baru gini doang gue udah nyerah sih?

“Oke, good. Cukup latihannya buat malam ini. Minggu depan, kita shooting. Kalian harus persiapkan diri kalian matang-matang, ya.”

Ko Cip membubarkan latihan kita hari itu. Iya, itu terjadi setelah kita ngulang adegan tadi berkali-kali dan nyaris ngebuat Ko Cip terserang stroke ringan karena ngeliat kelakuan kita. Gue pasrah. Apapun yang bakal terjadi nanti, biar Tuhan yang pimpin deh.

“Satu lagi, HAPALIN DIALOGNYA! Tanggal 13 Desember, kita bakal tampil live!”

Gue sibuk menggelepar di tanah dengan mulut berbusa.

2 thoughts on ““CUT!?” (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s