Mantan Terindah

“Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau di sana, aku di sini. Meski hatiku memilihmu…”

Gue sibuk mengetuk ngetuk jari ke meja sembari menunggu pesanan datang. Ada perasaan aneh di dada. Bukan, bukan karena gue baru saja mencuri sebuah sendal dan kabur ke restoran ini buat bersembunyi. Masalah kali ini lebih pelik daripada resiko bakal digebukin karena ketauan mencuri. Gue baru aja putus.

Seminggu yang lalu, di meja yang sama, adalah hari terburuk dalam hidup gue. Ga tau kenapa, tiba tiba aja dia mengajak buat ketemuan di restoran favorit kita ini. Tempat dimana dia akhirnya bersedia menerima cinta gue.

“Kenapa? Kok kayaknya serius banget?”

“Aku…”

“…seorang kapiten? Mempunyai pedang panjang?”

Dia tertawa kecil. Sebuah senyuman tulus yang udah lama banget ga gue lihat.

“Akuu….”

Ada sedikit keraguan di wajahnya ketika mau melanjutkan berbicara.

“Aku mau kita putus”

“Hah? Gimana gimana? Ga kedengeran yang barusan”

“Aku. Mau. Kita. Putus”

“Bentar ya, koneksi hape aku lagi lemot nih. Aku mau buka google translate dulu buat nerjemahin kalimat barusan”

“PUTUS! Pe u pu te u tu ES!. Sebuah kata yang menjelaskan keadaan dimana sepasang kekasih tidak lagi menjalin sebuah hubungan. Berlaku juga buat tali kolor”

Volume suaranya barusan lumayan keras. Cukup untuk membuat sekawanan gajah yang sedang merumput, lari ketakutan dan meninggalkan salah satu anggotanya yang berlari lambat.  Orang orang di resto pasti bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi mereka memilih berpura-pura tidak mendengar dan bersikap biasa saja. Beberapa yang tidak pandai berpura-pura, malah kayang di tengah jalan untuk menunjukkan kalo mereka memang tidak mendengar percakapan kami barusan. Kampret.

“Kenapa?”

Dia ga menjawab. Ada sedikit butiran bening yang menetes dari pinggiran matanya.

“Pasti karenaaaa… Orang tua kamu, ya?”

“Aku cuma ga mau ngeliat kamu jadi semakin sakit hati karena perlakuan Papi ke kamu”

Gue menengadah ke langit, mencari alasan logis atas semua ini. Yang gue tahu ketika menciptakan dunia, Tuhan membuat semua hari baik. Tapi kenapa bisa ada hari se-menyesakkan ini?

Dua tahun  kita pacaran, orang tuanya memang tidak merestui hubungan kami. Terlebih Papinya. Alasannya klasik, Papinya adalah seorang pengusaha sukses. Sedari kecil, dia sudah terbiasa hidup mapan karena kesuksesan Papinya. Sedangkan gue? Cumalah seonggok manusia yang ketika tanggal tua, harus rela ngemil bumbu indomie untuk bertahan hidup. Papinya tidak mau anaknya harus hidup menderita kalo terus barengan gue.

“Andai ku bisa, ingin aku memelukmu lagi. Di hati ini, hanya engkau mantan terindah yang selalu kurindukan…”

Ah sial! Dari berlaksa lagu yang ada, kenapa harus lagu ini yang di putar sih!?

Gue masih ingat betul ketika pertama kali main ke rumahnya. Selesai memarkirkan motor butut kesayangan di halaman rumahnya yang lebih mirip stadion sepak bola, gue dipersilahkan masuk oleh pembantunya. Sembari menunggu dia selesai bersiap-siap, gue menunggu di ruang tamu bareng Papinya. Suasana mendadak jadi kaku banget. Saking kakunya, kayaknya kami berdua harus di rendam di dalam larutan pelembut pakaian supaya suasananya bisa menjadi lebih luwes.

“Jadi… Siapa tadi nama kamu? Judi TEEETTT?”, Papinya mulai menginterogasi gue sambil tetap membaca koran sorenya. Ekspresi mukanya seperti orang yang lagi kesulitan buang air beberapa hari.

“Yudhi, Om”

“Oh, Yudhi. Pake ‘TEEETT’?”

“Engga, Om. Kalo yang itu lagu dangdut. Kebetulan kesukaan ayah saya.”

“Siapa?”

“Ayah saya”

“…yang nanya.”

“Kampret!?”

“Hah?!”

“O-ohh.. I-ini maksudnya karpetnya bagus. Pasti dari kulit asli ya, Om?”

“Iya. Kulit cicak.”

“…”

Gue menggaruk leher karena salah tingkah. Entah kenapa, Papinya malah melotot ke arah gue. Ternyata yang gue garuk adalah lehernya.

“Kerjaan kamu apa?”

“Kebetulan saya punya usaha sendiri, Om. Saya sehari hari sibuk mengurus perkebunan berhektar hektar dan juga hewan ternak seperti sapi dan lain-lain.”

“Oh ya? Wah, hebat dong. Masih muda, tapi sudah sukses. Ngomong-ngomong, perkebunan kamu ada dimana?”

“Di Hay Day, Om”

Mampus! 1-1.

“Ngeliat dari sebuah benda yang kamu sebut sebagai ‘kendaraan’ dan kamu parkir di depan itu, saya berasumsi kalo pekerjaan kamu cuma sebatas sales. Paling mentok, sales sabun colek lah. Iya, kan?”

“OM!”

“Eh, salah ya? Sorry”

“…kok bisa tau kalo saya sales sabun colek?”

“…”

Papinya menaruh koran di meja. Kemudian, dia membetulkan letak kacamatanya sebelum dia menyerang gue dengan kata-kata mautnya,

“Gini ya, siapa tadi nama kamu? Sudi?”

“Yudhi, Om. Pake ‘Y’. Kalo ‘Sudi’ apalagi kalo ditambahin akhiran ‘Mampir’,  saya malah terdengar kayak nama warteg di sepanjang pantura.”

“Ya pokoknya itu lah. Dengan gaji yang ga seberapa, memangnya kamu yakin bisa membahagiakan anak saya? Bisa apa kamu buat memenuhi kebutuhannya?”

Gue melongo. Gila, abis makan apa Papinya sampe kata-katanya bisa sepedas ini? Balsem urut?

“Coba kamu lihat diri kamu sendiri. Dekil, kurus. Mirip tusuk gigi yang dikasih wig!”

Gue melihat penampilan gue malam itu. Bener, mirip tusuk gigi di kasih wig.

“Sudahlah, lebih baik kamu pulang sekarang. Saya ga mau anak saya ikut-ikutan susah kalo terus jalan sama kamu. Naik motor butut lagi. Dia pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari kamu! Dan yang lebih mapan tentunya.”

Jus alpukat pesanan gue pun akhirnya datang dan sukses membuyarkan lamunan gue. Gue kembali ke realita. Di restoran pinggir jalan favorit kita berdua, tapi kali ini cuma sendirian. Bisa dibilang dari beberapa kali putus hubungan dengan beberapa wanita sebelumnya, cuma dia yang bisa membuat gue patah hati paling dalam. Dia, resmi jadi mantan terindah buat gue. Mantan yang sukses membawa separuh nafas gue pergi berbarengan dengannya tepat di saat dia mengucapkan kata putus seminggu yang lalu.

Gue melihat pantulan bayangan sendiri dari kaca resto ini. Kacau. Gue berantakan tanpa dia. Lucu gimana pada zaman ini, uang bisa jadi tolok ukur kebahagiaan seseorang.

Semenjak peristiwa penolakan dari Papinya malam itu, dia dilarang untuk bertemu gue. Menurut Papinya, gue hanyalah benalu yang nantinya hanya bisa menumpang hidup jika terus jalan dengan anaknya. Tapi kita nekat backstreet. Diam-diam ketemuan sehabis dia selesai kuliah untuk menghabiskan waktu bareng di resto ini, atau berjalan di taman sambil duduk di bawah pohon berdua. Membuat sirik para jomblo yang kebetulan lewat. Kasihan mereka.

Yang Papinya ga tau adalah, kita, bisa bahagia dengan cara sesederhana ini.

“Yud…”

“Ya?”

“Kamu ga akan nyerah perjuangin aku, kan? Walaupun Papi masih bersikap kayak gini?”, tanya dia siang itu di taman tempat biasa kita menghabiskan sore.

“Mana mungkin aku bisa nyerah setelah aku berjuang mati-matian buat dapetin kamu?”

Tapi kenyataannya, seminggu yang lalu, malah dia yang menyerah pada keadaan. Dia memilih untuk menyudahi hubungan ini karena ga tahan sama sifat Papinya ke gue. Alasan yang menurut gue, sangat ga masuk akal. Terlebih lagi setelah janji kita di taman waktu itu.

“Kenapa” adalah kata favorit gue buat malam itu. Gue bertanya-tanya kenapa dia bisa menyerah setelah sama-sama berjuang selama ini. Setelah banyak sekali kisah manis yang kita lalui berdua. Dia tidak menjawab. Dia sibuk menyeka air matanya yang sepertinya, tidak habis habis malam itu.

“Jadi kamu udah capek berjuang buat kita?”

“Bukan gitu. Aku cuma ga tega lihat kamu diginiin terus sama Papi. Apalagi belakangan ini, Papi semakin keras melarang aku buat berhubungan sama kamu. Kamu itu cowok baik, Yud. Baik banget malah. Kamu pantes dapetin cewek yang lebih baik dari aku”

Gue terdiam, ga tau lagi mau menjawab apa. Otak gue sepertinya sedang sibuk menghakimi dirinya sendiri waktu itu. Mungkin benar, gue emang ga pantes buat dia. Semesta sepertinya berkonspirasi buat memisahkan kita malam ini.

“Minggu depan, aku mau berangkat ke Venice. Kamu masih inget kan kalo aku udah pernah bilang Papi nyuruh aku nerusin S2 disana? Aku ga bisa nolak, Yud. Maafin aku. Aku harap kamu bisa ngerti.”

Abis ngomong gitu, dia pun beranjak pergi meninggalkan dia. Gue masih saja sibuk mematung. Berharap kalo semua ini hanya mimpi. Kira-kira di langkah ke delapannya, gue memanggil dia.

“Rasti, tunggu..”

Dia menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Masih ada bekas air mata di pipinya.

“Aku ngerti alesan kenapa kamu minta putus sama aku. Aku sadar, aku memang bukan yang terbaik seperti yang papi kamu bilang. Dan aku juga yakin, kamu pasti tau kalo aku udah berjuang buat bahagiain kamu. Mungkin bukan dengan uang, tapi dengan segala waktu yang aku kasih ke kamu. Tapi seenggaknya… kita masih bisa temenan, kan?”

Dia berlari ke arah gue dan kemudian memeluk. Erat sekali. Air matanya kembali deras mengucur.

“Masih kok. Masih. Kamu bakal selalu jadi teman terbaik aku, Yud.”

“Ada satu lagi yang aku mau tanya sebelum kamu pergi.”

“Ya?”

“Kira-kira kalo mau ke Venice, harus naik angkot nomor berapa ya dari Jakarta? Kapan kapan aku mau nengokin kamu ke sana.”

Dia menyeka air matanya kemudian tertawa sambil mencubit pelan bahu gue. Gue mencoba menikmati setiap lekuk senyumnya malam itu sebelum semuanya hilang.

“Yang t’lah kau buat, sungguhlah indah. Buat diriku susah lupa…”

Setidaknya, gue masih bisa membuatnya tersenyum sebelum akhirnya dia memutuskan pergi meninggalkan gue.

6 thoughts on “Mantan Terindah

  1. jokes-nya kena beberapa kali, terutama pas dialog sama bokap si mantan. kocak tuh. usul gua, kalo lagi ngebangun mood sedih, sebaiknya minimalisasi penempatan jokes karena bisa ngurangin ambiance sedihnya.

    overall, a nice post. good job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s