Kepada Hati, Dari Logika

Bagaimana rasanya mencinta sendiri?
Menyenangkankah menunggu tanpa batas waktu?
Bukankah itu menyebalkan?
Tapi mengapa masih saja kau mengagungkan dia jauh melebihi apapun?

Sudahlah, lupakan dia.
Kau harus melangkah jauh, lupakan segalanya.
Tidakkah melelahkan menunggu yang tak pasti?
Sadarkah siapa yang kau coba bohongi sekarang?

Ia, dirimu sendiri, sosok yang selama ini lebih mendengarkanmu daripada aku, logikanya.

Aku heran kenapa lebih banyak orang yang mendengarkanmu daripada aku.
Padahal selama ini, seringkali kau melakukan hal-hal yang amat bodoh
Mencinta diam-diam, berpura-pura baik-baik saja ketika melihat dia dengan yang lain, atau berujar: “Aku bahagia jika ia bahagia.”
Hei, dengarkan aku. Itu semua omong kosong!
Aku tau sekali ketika mengucapkan itu, rasanya seperti dihujam oleh ribuan pisau penuh karat, dan disiram air garam setelahnya.
Perih, tapi kau malah menikmatinya.
Bukankah itu gila?!

Aku tau seringkali kita berseteru ketika membahas tentang ini
Tapi tolong, sekali ini saja, dengarkan aku.
Aku hanya tidak mau melihat kau, sahabat baikku, terpuruk karena hal ini.
Kau harus sadar, hei Hati.
Sudah terlalu jauh kau larut dalam kebodohan ini.

Pernahkah berpikir bahwa kau hanyalah sekedar bayangan baginya?
Yang sekelebat terlihat, kemudian menghilang selamanya.
Yang kehadirannya bahkan tidak ia harapkan.
Demi Yang Maha Tahu, berhentilah memikirkannya!
Aku yakin, tidak pernah sekalipun kau terlintas di pikirannya.
Bahkan setelah semua yang telah kau korbankan untuknya.

Aku ingat betul bagaimana bahagianya kau ketika menghabiskan satu malam penuh berbincang dengannya.
Bagaimana kau selalu melihat ke layar handphone karena tidak sabar menunggu balasannya.
Gesture tubuhmu, senyuman-senyuman yang sebenarnya tidak perlu, semuanya menerjemahkan betapa kau sangat ingin agar malam itu tidak cepat berakhir.
Tapi sadarkah kau kalau saat itu, ia hanya tengah bosan dan butuh hiburan?
Lihatlah keesokan harinya, ketika si bosan telah pergi darinya.
Ia bahkan tidak mengingat siapa namamu atau topik apa yang kalian bicarakan semalam tadi.
Aku kagum padamu akan satu hal, bagaimana kau berusaha untuk tetap terjaga hanya untuk menemaninya berbincang sampai kantuk datang menghampirinya.
Padahal aku tau, kau sedang lelah-lelahnya hari itu, kan?

Dasar bodoh!

Maaf jika aku baru saja memakimu.
Tapi kau memang pantas menerima itu.
Aku harap kau segera berhenti menyiksa dirimu sendiri.
Sesegera ia melupakanmu dalam kehidupannya.

Dari sahabat baikmu, seteru abadimu dalam segala hal,

Logika.

P.s: untuk sementara waktu, berhentilah mendengarkan lagu-lagu dari Secondhand Serenade. Itu baik untuk “kesehatanmu”.🙂

3 thoughts on “Kepada Hati, Dari Logika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s