Titanic(h)?

Titanic

Gue lagi sibuk memikirkan apa yang bakal terjadi dengan Anang & Ashanti kalo satu hari aja, mereka ga nongol di infotainment. Sampai tiba-tiba, twit absurd di atas muncul dengan semena-mena di timeline.

Hal pertama yang terlintas ketika ngeliat twit di atas adalah: “O…keee”

Hal kedua yang terlintas: “O…. KEEEEE”

Asli, gue ga abis pikir apa yang ada di otak si sutradara ketika memutuskan mau mengangkat kisah cinta Eyang Subur ke layar lebar. Tapi beberapa detik kemudian, gue tiba-tiba kepikiran bakal kayak gimana jalan ceritanya. Ah, mungkin ini yang dinamakan jodoh.

Mungkin benar yang headline berita itu katakan kalo film ini bakalan jadi seperti Titanic. Tapiiiii… dalam versi romantic horror. Penasaran gimana ceritanya? Gue udah membuat sedikit penggalan ceritanya versi gue di bawah ini. Cekidot:

*background lautan. scene di atas kapal Titanic*

Istri Subur, kita sebut saja Rose (Bernama lengkap Rosediana Sumiati) berlari ke arah buritan kapal. Dia menangis. Tadinya, gue sebagai sutradara berpikir kalo dia mau bunuh diri dengan melompat ke laut. Tapi ternyata tidak. Dia hanya ingin muntah. Ya, dia mabuk laut. Cupu memang. Kenapa dia bisa menangis? Oh, itu tadi kakinya ga sengaja keinjek sewaktu lagi ngantri doorprize di acara yang diadakan panitia kapal.

Setelah rasa mualnya sedikit berkurang, Rose memandangi lautan. Indah sekali. Entah kenapa, dia merasa ingin merentangkan ke dua tangannya.

“Every night in my dream, I see you. I feel you…”,

“Ummm… Mbak. Lagunya boleh request? Saya bosen lagu itu terus. Gimana kalo diganti “Buaya Buntung” aja?”

“Lo kate gue Inul?!”, Celine Dion pun menghentikan nyanyiannya dan melengos pergi. Suasana kembali hening.

Tidak berapa lama, Jack Subur pun muncul & mendekati Rose. Gue mencoba menyisipkan efek slow motion di adegan ini.

“Pak sutradara…”

“Ya?”, gue menjawab.

“Bisa ga engga usah dikasih efek slow motion? Saya udah ga sabar pengen meluk Rose ini masalahnya”

“…”

Gue pun meluluskan permintaannya. Setelah beberapa saat berlari & hampir dilarikan ke UGD karena kehabisan nafas, akhirnya Jack Subur pun berhasil memeluk Rose yang masih merentangkan kedua tangannya dari belakang. Persis seperti harapannya.

“Rose, badan kamuuuu…. kok kekar ya… sekarang?”

“Kkk…Kamu salah peluk. Itu bukan aku. Itu Agung Hercules”

“Oh gitttt… WHAAATT!?”

Rose bete karena ngeliat Jack malah memeluk Agung Hercules. Akhirnya, dia pun menerima tawaran menjadi iklan sosis dan menyanyikan lagu andalannya di iklan itu,

“Aku bete sama Subur. Aku bete, bete, bete~”

….

CUT!?

Bentar. Ini Agung Hercules ngapain tiba-tiba nongol?

Oke, back to the story.

Setelah Rose menyelesaikan kontraknya menjadi bintang iklan sosis, dia pun kembali merentangkan tangannya kembali. Kali ini, Jack benar-benar memeluk dia dari belakang. Ya, itu terjadi setelah Agung memukulnya memakai barbel di adegan sebelumnya.

“Every night in my dream. I feeee….”

“Mbak, ‘Buaya Buntung’, Mbak”

“AUK AH!?”, untuk ke dua kalinya dalam cerita ini, Celine Dion melengos pergi.

Semuanya berjalan indah sekali bagi mereka berdua malam itu. Mereka berpelukan semakin erat.

“Rose, look. There’s jellyfish!”, tunjuk Jack ke bawah kapal.

“Jack, itu kan bayangan kamu yang terpantul di laut gara-gara sinar bulan…”

“…”

Suasana kembali hening. Sampai tiba-tibaaaa….. *JENGG JENGGGG!?*

Bentar, gue minum dulu.

…………

Oke, sampai dimana kita tadi?

Sampai tiba tiba Rose mendengar suara aneh dari belakang. Yang dia ingat, tidak ada orang lain lagi di belakangnya. Hanya ada Jack yang masih sibuk memeluknya. Awalnya dia mencoba mengabaikan suara itu. Tapi tidak berhasil.

“Jack…”

“Ya?”

“Kamu denger ga suara aneh itu?”

“Suara aneh yang mana?”

“Itu lho, yang bunyi ‘klepek klepek’ itu. Masa ga kedengeran?”

Jack Subur tidak menjawab. Ada keraguan di wajahnya. Rose merasa ada sesuatu yang aneh dari Jack. Wajah Rose pun memucat. Dia akhirnya ingat… ini adalah hari terakhir bayar listrik. Tapi dia malah berada jauh di tengah laut.

“Jack…”

Jack masih diam. Tapi karena diancam bakal dijadiin baling-baling kapal sama Rose, akhirnya dia pun mengaku.

“Se… sebenarnyaaaaa….”

*JENGG JENGGGG*

“SEBENARNYAAAAHHH….”

*JENGGGG JENGGGGGG*

“Mas, efek pianonya bisa di kecilin dikit? Pacar saya mau ngomong lho ini”, protes Rose ke tim sound effect.

“SEBENARNYAAAAHHHHH…”

“AHELAH, KELAMAAN LO!?”, Rose pun bersiap menceburkan Subur ke laut.

“AAAAAKKKK! JANGAAANNN!? Oke, saya ngaku. Sebenarnya ituuuu….”

“AAAAAKKK!?”

“Gue belom ngomong, kampret!”

“Ssss… sorry”

“Sebenarnya, itu adalah suaraaaa….”

*JENGG JENGGGG*

“ITU ADALAH SUARAAAAA….”

*JENGGG JENGGGGGGG*

Rose melotot ke arah tim sound effect. Mereka akhirnya memilih tidak memberikan efek lagi di cerita ini daripada berakhir di lempar keluar kapal.

“ITU SUARAAAAAA….”

Rose menggigit tangan orang yang berdiri di sebelahnya karena gregetan menunggu pengakuan Jack Subur. Puasanya pun batal.

“…kulit aku yang ketiup angin, Rose”

Tamat.

3 thoughts on “Titanic(h)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s