“Jangan Jangan Kita Jodoh Lagi~”

Joke itu yang aku ucapkan di tengah-tengah obrolan kita dengan yang lainnya di depan gereja. Serentak, teman-teman yang kebetulan ada di sana langsung mengeluarkan mantra “CIYEEEHHH!?” yang jika diucapkan lebih dari 3 kali, mungkin akan membuat seekor kelinci keluar dari topi seorang pesulap. Bukan tanpa alasan aku mengucapkannya. Malam itu, kamu memakai baju putih. Persis seperti warna baju yang aku kenakan saat itu. Ya, aku memang suka mengait-ngaitkan semua hal di sekitarmu, apa yang kamu pakai, apa yang kamu ucapkan, yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali, dengan joke andalanku seperti di bawah ini:

“Eh, di kalenderku kalo hari Minggu tanggalnya masa jadi merah gitu, lho. Di kalender kamu juga? Duh, jangan-jangan kita jodoh, lagi…”

“Percaya atau engga, di rumahku kalo hujan suka tiba-tiba ada air gitu dari langit. Ya ampun, di rumah kamu juga? Jangan-jangan kita jodoh, lagi…”

“Kamu suka pisang? Oh, kalo aku sih engga. Tapi denger-denger, gorilla suka pisang, lho. Jangan-jangan kaliaaaannn…”

Hehehe. Lupakan soal yang terakhir. Aku hanya mencoba mencari sesuatu yang berbeda dari biasanya. Aku takut, takut jika kamu bosan mendengar joke itu selalu keluar dari mulutku. Tapi sepertinya kamu tidak pernah bosan, ya? Karena setiap kali aku mengucapkan joke itu, kamu selalu tertawa.

Aku suka ketika kamu tertawa. Aku bahkan sempat curiga

sewaktu Tuhan menciptakanmu, dia mengukir bentuk bibirmu dengan sangat hati-hati sehingga bisa membuatmu terlihat begitu mempesona. Bahkan ketika kamu tertawa terbahak-bahak sekalipun.

People say, to make her fall in love, I had to make her laugh. But everytime you laughs, I’m the one who falls in love.

Yang kamu tidak tahu, itu bukan hanya sekedar joke. Aku mengharapkan itu benar-benar terjadi.

………………..

“HAHAHAHA! Sandhi, Sandhi. Kreatif banget sih kamu!”.

Malam itu kamu mengucapkannya sambil sesekali membungkukkan badan menahan tawa karena tidak tahan dengan kerandomanku. Kreatif? Apa itu kreatif? Aku hanya mencoba berpikiran lebih liar dari orang kebanyakan. Berusaha jadi diri sendiri sebisa mungkin tanpa harus menjadi orang lain yang sok-sok jaim di depan kamu. Kamu tidak suka orang-orang seperti mereka, bukan? Tentu saja aku tahu. Aku juga tahu kalau kamu juga suka nomor 9. Nomor yang juga menjadi favoritku sedari kecil. Oke, biar aku beri tahu satu rahasia dari mana aku bisa tahu semua ini. Selain dari obrolan kita, diam-diam setiap harinya, aku sibuk memperhatikan timeline twittermu.

Ya, aku suka memperhatikan timeline twitter sekarang. Berharap ada satu akun,  yang username-nya berasal dari akronim namanya, muncul di timeline ku. Tapi ketika itu terjadi, aku langsung membenci diriku sendiri. Aku benci selalu memikirkan kata-kata lucu apa yang ingin aku tweet dan berharap kamu yang di sana membacanya, kemudian tertawa…. walaupun aku tidak tahu apakah kamu melihatnya atau tidak. Tapi setidaknya, aku sudah berusaha.

“TIIINNN!!!?”

Klakson mobil di belakang membuyarkan lamunanku. Rupanya, lampu sudah berubah jadi hijau. Lucu bagaimana di tengah kemacetan ini, diantara sekian banyak deru mesin kendaraan, aku masih sempat-sempatnya memikirkan kamu. Aku harus segera menjalankan mobilku jika tidak mau berakhir menjadi ban serep Metro Mini yang dari tadi sudah tidak sabar menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Aku mencoba ber-positive thinking. Mungkin saja, si supir sudah 2 bulan tidak buang air, tiba-tiba kebelet dan harus menemukan wc umum terdekat sekarang juga. Tapi tunggu, kenapa aku malah jadi memikirkan supir Metro Mini itu? Ah, sudahlah.

7:30 malam.

Aku hanya punya waktu 30 menit lagi untuk menjemputmu di rumah sebelum waktu yang di janjikan. Malam ini, aku berjanji mengajakmu ke restoran favorite kita. Duduk di meja nomor sembilan. Persis seperti saat pertama kali aku mengajakmu makan malam 2 bulan yang lalu.

Oh, itu rumahmu sudah terlihat. Aku harus segera memarkirkan mobil ini. Aku sudah tidak sabar menemuimu. Perasaan ini harus aku ungkapkan malam ini juga, setibanya nanti di meja nomor sembilan. Ya, harus.

3 kali aku mengetuk pintu rumahmu. Selagi menunggu ada yang membukakan pintu, aku merapikan rambutku. Mengecek apakah kemeja berwarna hitam yang sedang ku kenakan ini sudah tampil seperti yang aku harapkan. Sebelum aku mulai memanggil sekumpulan barongsai untuk beratraksi di depan rumahmu karena tidak sabar menunggu, pintu akhirnya di buka. Ternyata itu Mama mu.

“Malam, Tante. Sandra nya ada?”

See? Bahkan nama kita pun hampir mirip, bukan?

“Eh, Sandhi. Ada, kok. Sebentar Tante panggilkan… San, ini Sandhi udah dateng.”

Beberapa detik setelah Mama mu berteriak memanggil, aku melihat sesosok datang berjalan ke arah kami. Cantik sekali. Aku bahkan tidak tahu harus menggunakan kata apa lagi untuk mendeskripsikan kecantikannya di kalimat ini. Pernah melihat bagaimana ekspresi orang yang kaget  ketika diberitahu kalau kucing jantannya baru saja menang adu panco antar kucing se-kelurahan? Nah, sama. Aku juga belum pernah. Tapi mungkin seperti itu ekspresiku ketika melihat kamu malam ini. Aku tertegun. Tak bisa berkata apa-apa. Seandainya aku tau berapa nomor telepon Tuhan, pasti aku akan langsung menghubunginya sekarang. Aku ingin melaporkan kalau salah satu malaikatnya, yang memakai dress berwarna hitam yang serasi dengan warna rambutnya ini, sekarang sedang bolos bertugas dan malah dengan semena-menanya berdiri di depanku. Memaksaku mematung beberapa saat karena tidak tahan melihat keanggunannya.

But wait… a black dress?

Jangan-jangan kita jodoh lagi~

4 thoughts on ““Jangan Jangan Kita Jodoh Lagi~”

    • Sandhi nya cowok kok, Om Roy. Lagi belajar nulis comedy romance kayak di buku-bukunya Om nih. Gaya nulisnya jadi agak-agak nyontek dikit jadinya. Bahahaha. *maafkan saya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s